Selasa, Desember 02, 2008
Janji Terus Kontrol Kabinet Rahman
Nu Sae Siap Jadi Oposisi
BOGOR - Kekalahan yang dialami Nu Sae dari Rahman tak membuat kubu yang diusung Partai Golkar itu meradang. Mereka segera mengevaluasi kinerja tim selama Pilbup berlangsung.
Humas Nu Sae Hidayat Royani mengatakan, pihaknya bersama partai pendukung lainnya akan melakukan evaluasi. Gejolak Pilkada menjadi bukti untuk melihat kelemahan yang dijalankan masing-masing pendukung. "Secara ikatan ideologi, tidak ada yang salah dengan keputusan mengusung Fitri Putra Nugraha (Nungki) dan Endang Kosasih. Karena itu sudah menjadi keputusan bersama," tegas Hidayat kepada Radar Bogor, tadi malam.
Hidayat menjelaskan, sifat pragmatis dari titik kelemahan dalam sosialisasi pasangan Golkar itulah yang akan menjadi gambaran. Artinya, evaluasi nanti bukan berarti harus mencari-cari kesalahan pihak lain ataupun mengkambinghitamkan seseorang. Yang akan dilakukan, bagaimana visi misi Nu Sae yakni mementingkan perubahan dan perbaikan ke arah lebih baik bisa dilaksanakan bupati mendatang. “Kami akan lakukan evaluasi, terutama belajar dari kekalahan guna mengontrol pemerintahan Rahman ke depan,” katanya.
Lalu bagaimana tanggapan Nu Sae atas keunggulan yang diraih Rahman? Hidayat Royani menuturkan, kemenangan Rahman telah membuktikan secara umum dalam Pilkada di Indonesia peran partai politik tidak terlalu dominan. Justru peran figur baik secara tingkat popularitas dan elektabilitas dapat menentukan kemenangan calon. Selain itu, peran kemampuan ekonomi dan kekuatan tim sukses juga menjadi penentu kemenangan.
Kendati Golkar kalah dalam Pilkada, bukan berarti dalam pemilihan legislatif (Pileg) partainya akan menyerah. Melainkan berusaha menempatkan sebanyak mungkin kader Golkar di legislatif.
"Nantinya diharapkan dapat berperan sebagai kekuatan oposisi kritis dan konstruktif. Alasan menjadi opisisi bukanlah upaya politik balas dendam, melainkan berusaha mempunyai peran guna mengontrol pemerintahan Rahman agar tidak sewenang-wenang dan korupsi," papar Hidayat.Pihaknya juga berharap pemerintahan Rahman ke depan amanah dengan mengedepankan kepentingan rakyat Kabupaten Bogor dan bukan kepentingan kelompok maupun partainya.
“Secara pribadi saya sudah mengucapkan selamat kepada Rahman,” tuturnya.
Camat Mulai Merapat
Sementara di tengah spekulasi Rachmat Yasin (RY) akan merombak jajaran birokrasi Pemda Kabupaten Bogor pasca pelantikan nanti, kemarin sejumlah camat mulai merapat ke Rahman. Meski begitu belum tampak adanya para kepala dinas.
Di samping para kolega, rekan bisnis, sanak saudara dan sejumlah birokrat juga terus membanjiri rumah Rachmat Yasin di Dramaga. Sejak pagi, RY tak henti-hentinya menerima tamu yang mengucapkan selamat dan sukses atas keunggulan suaranya dalam Pilbup putaran kedua.
Di pelataran belakang rumah, ratusan simpatisan berkumpul. Ditemani kawan setianya, Rudi Ferdian, RY terus berjabat tangan dengan tamu yang berdatangan.
RY juga tampak berbincang serius mengenai rencana kepemimpinannya bila sudah dilantik menjadi bupati Kabupaten Bogor. Dia membutuhkan orang-orang yang bisa diandalkan untuk membawa perubahan bagi Kabupaten Bogor ke depan. “Saya butuh mereka yang bisa diandalkan,” katanya saat diskusi kecil dengan para tamu.
Juru Bicara Rahman David Rizar Nugroho mengatakan, seharian kemarin RY tidak melakukan kegiatan apa pun dan hanya berdiam diri di rumah menerima para tamu yang berdatangan mengucapkan selamat. Tamu-tamu yang datang mulai dari kades, camat, ulama dan rengrengan serta tim sukses dari berbagai daerah di Kabupaten Bogor.
Menurut David, RY akan tetap menghormati keputusan akhir KPU Kabupaten Bogor, meski perkembangan suara terus dipantau dan tidak jauh berbeda dengan hasil real count media. “RY tetap akan menghormati penghitungan akhir oleh KPU, meski hasil pemantau kami perkembangan hasil itu tidak berbeda jauh,” ujarnya.
Mandat yang diterima RY, kata David, sangat kuat untuk kepemimpinan baru dan langsung bekerja menyelesaikan berbagai persoalan di Kabupaten Bogor. Yakni bagaimana Rahman membangun Kabupaten Bogor dengan visi dan misi yang baru.
Sedikitnya 23 kecamatan sudah merampungkan pleno suara pemilihan bupati Bogor, kemarin. Suara yang masuk dari 23 kecamatan itu sebanyak 921.759 yang dimenangkan Rahman sebanyak 64,13%
dan pasangan Nu Sae 35,87%.
Hasil pleno 23 kecamatan itu, pasangan Rahman menang besar di Dramaga dengan 82,65%.
Sedangkan Nu Sae hanya merebut 17,35%. Suara terbesar kedua Rahman ada di Jasinga dengan 70,72 persen. Sedangkan Nu Sae hanya mendapatkan 29,28%. Padahal di kecamatan pada putaran pertama yang unggul adalah pasangan Djurus dengan posisi kedua Rahman.
Di 23 kecamatan itu juga, keunggulan tipis Rahman hanya di Sukamakmur. Di sana dia merebut 50,50% dan Nu Sae 49,50%. Selebihnya, Rahman unggul besar di atas 60%.
(http://www.radar-bogor.co.id/index.php?ar_id=MjI3NzA=&click=MjM3)
Senin, Desember 01, 2008
Nu Sae Akui Kemenangan Rahman
CIBINONG – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bogor belum mengeluarkan pengumuman resmi hasil perolehan suara Pilbup putaran kedua, namun tim Nu Sae melalui juru bicaranya Hidayat Royani lebih awal mengakui keunggulan pasangan Rahman ketika penghitungan perolehan suara masih berlangsung, kemarin.
Pernyataan Hidayat dilontarkan setelah melihat data perolehan suara sementara yang dikeluarkan PKS, parpol yang empat hari menjelang Pilbup putaran kedua menyatakan dukungannya secara resmi kepada Nu Sae.
“Dari hasil penghitungan suara sementara, kami mengakui kemenangan Rahman,” ujar Hidayat sedikit lesu menjawab dan bernada kecewa ketika dihubungi Radar Bogor melalui ponselnya.
Hidayat secara gentle (ksatria) juga mengakui langkah tim Rahman secara teknis lebih unggul serta didukung kekuatan sumber dana yang memadai. Namun, Hidayat sedikit kecewa terhadap kemenangan telak pasangan Rahman. Ia mengaku menerima laporan dari beberapa kecamatan tentang praktik money politic (politik uang) yang dilakukan Rahman. Dirinya meminta agar aparat yang berwenang, yakni Panwas dan aparat kepolisian, segera memproses secara hukum.
Hidayat sangat menghendaki hukum harus ditegakkan sebagai bagian dari proses pendidikan politik, sehingga ke depan praktik seperti itu tidak terjadi lagi.
Terlepas dari cara apapun yang digunakan tim Rahman, Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Bogor ini tetap memuji kemenangan rival Nu Sae itu. “Yang pasti, Allah telah menentukan keputusannya memenangkan Rahman untuk memimpin Kabupaten Bogor lima tahun ke depan,” katanya pasrah.
Sementara itu, calon bupati Fitri Putra Nugraha (Nungki) usai penghitungan perolehan suara di TPS, ketika berusaha dikonfirmasi sudah sulit dihubungi. Nada dering di handphone-nya terdengar aktif tapi tak kunjung ada jawaban. Pesan pendek (SMS) pun tidak pernah dibalas.
Beberapa orang terdekat Nungki yang sempat dihubungi Radar Bogor pun mengaku tidak bisa menghubungi calon orang nomor satu di Kabupaten Bogor itu. Hidayat juga tak menampik kalau sempat berusaha berkomunikasi dengan Nungki tapi susah dihubungi. Salah satu orang terdekatnya pun demikian ketika Radar Bogor ingin mengetahui keberadaan Nungki.
Masih penasaran terhadap keberadaan Nungki, Radar Bogor menyempatkan diri mendatangi tiga rumah yang sering disinggahinya. Rumah pertama yakni rumah dua tingkat di Perumahan Puri Nirwana. Di rumah itu tampak kosong karena tak ada orang yang menungguinya.
Pagarnya tertutup dan lampu kamar atas saja yang menyala. Hanya teronggok satu poster besar bergambar Nungki dan calon wakil bupati Endang Kosasih dengan latar belakang warna kuning yang tertempel di pintu parkir rumah.
Rumah berikutnya di Perumahan Bumi Sentosa di Kelurahan Karadenan Kecamatan Cibinong. Rumah yang tergolong masih baru ini merupakan salah satu tempat beristirahat calon wakil bupati Endang Kosasih. Namun, di rumah ini pun terlihat lengang. Pintu rumah tertutup dan tidak ada tanda orang berada di dalamnya.
Rumah terakhir yang Radar Bogor datangi yakni di Perumahan Mutiara Sentul. Di rumah bergaya minimalis ini terlihat orang-orang yang selalu ikut saat pasangan Nu Sae berkampanye. Namun, ketika Radar Bogor menanyakan keberadaan Nungki, mereka semua menggeleng.
“Tadi sih Nungki sempat ke sini, tapi tidak lama langsung pergi entah ke mana,” ujar seorang di antara mereka yang tinggal di rumah tersebut.
Sebelumnya, saat Nungki menyalurkan hak pilihnya di TPS 01 Kampung Banceuy Desa Babakanmadang Kecamatan Babakanmadang, ia berjanji akan mendatangi kantor DPD Partai Golkar sekitar pukul 15:00 WIB untuk bersama-sama melihat hasil penghitungan suara.
Namun, hingga pukul 16:00 WIB Nungki tak kunjung tiba. Kantor DPD Partai Golkar pun lengang. Tidak banyak yang datang ke kantor berwarna kuning ini.
Menanggapi hal ini, Hidayat yakin Nungki dan Endang Kosasih secara mental telah siap menerima konsekuensi dari proses demokrasi ini. Demikian juga tim sukses dan masyarakat yang mendukung Nu Sae.
“Yang terpenting setelah proses ini seluruh masyarakat Kabupaten Bogor yang semula berbeda pilihan dapat berasimilasi kembali untuk menjaga kedamaian di tengah masyarakat,” harap Hidayat.
(http://www.radar-bogor.co.id/index.php?ar_id=MjI3MTk=&click=MzM4)
Menang Besar di Semua Kecamatan, Rahman Ruarrr Biasa..!
Rahman Ruarrr Biasa..!
BOGOR – Rachmat Yasin-Karyawan Faturachman (Rahman) memang ruarr biasa (baca luar biasa). Pasangan bernomor urut 5 ini menang besar alias unggul mutlak atas pasangan Nungki sareng Endang Kosasih (Nu Sae) pada Pilbup putaran kedua, kemarin. Rahman menang telak hampir di semua kecamatan se-Kabupaten Bogor.
Berdasarkan data sementara hasil quick count (penghitungan cepat) Lingkaran Survei Indonesia (LSI), perolehan suara Rahman mencapai 63,55%, sedangkan Nu Sae 36,45 % dengan partisipasi pemilih 54,48 % dan golput 45,52%. Quick count tim Rahman juga memperlihatkan hasil yang hampir sama, di mana Rahman mengumpulkan suara 892.936 (64.40%) dan Nu Sae 493.623 (35.60%). Total suara yang masuk hingga pukul 23:00 WIB sudah 90 persen.
Keunggulan Rahman juga tampak dari real count versi Radar Bogor. Rahman menyapu bersih perolehan suara 40 kecamatan di Kabupaten Bogor. Di semua kecamatan, pasangan ini menang di atas 52 persen. Di kecamatan Dramaga, Rahman menang luar biasa dengan 82,68 persen.
Bagaimana dengan real count KPU Kabupaten Bogor dan tim Nu Sae? Hingga tadi malam, baik KPU maupun Nu Sae, keduanya tidak mengeluarkan data penghitungan sementara.
Nu Sae beralasan, data perolehan suara sementara hanya untuk kalangan internal dan belum bisa dipublikasikan. Sedangkan KPU jauh-jauh hari sudah mengumumkan tak akan mengeluarkan data penghitungan sementara sebelum pleno dilangsungkan.
Ya, keunggulan Rahman di atas 60 persen tersebut memang di luar dugaan. Sebelumnya, para pengamat politik memperkirakan pertarungan Rahman dengan Nu Sae bakal ketat. Prediksi itu wajar, mengingat Nu Sae yang beberapa hari sebelum pencoblosan melakukan koalisi dengan PKS, Partai Demokrat dan dukungan IKBC.
Tapi kenyataannya justru Rahman unggul. Koalisi Rakyat yang digalang Rahman sukses menjaring dukungan lebih luas. Selain itu, faktor kepopuleran Rahman juga terus mendongkrak tim Rahman.
Lalu, bagaimana reaksi Rachmat Yasin (RY) dan Karyawan Faturachman (KF)? Mereka menganggap keunggulan tersebut ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi ada kegembiraan dan di sisi lain merupakan konsekuensi untuk memberikan harapan baru kepada masyarakat Kabupaten Bogor.
“Inalillahi wainna illaihi rojiun. Ini adalah tanggung jawab besar yang harus kami perjuangkan karena merupakan amanah masyarakat Kabupaten Bogor. Kabupaten Bogor harus lebih baik dan maju,” tegas RY yang didampingi wakilnya Karyawan Faturahman dan Wawan Risdiawan saat konferensi pers di kediaman RY di Dramaga, kemarin.
Mantan Ketua DPRD Kabupaten Bogor ini mengatakan, setelah hasil unggul sementara yang diraihnya, RY-KF akan segera bersilaturahmi kepada rivalnya Nu Sae. “Kami akan segera bersilaturahmi ke Nu Sae,” kata RY.
RY juga berjanji menganut pemerintahan yang akomodatif dan terbuka. Artinya, pemerintahan yang dipimpinnya nanti akan merangkul semua kalangan. Selebihnya, RY juga berterima kasih atas dukungan masyarakat dan sejumlah parpol serta ormas yang sudah bergabung mendukung Rahman.
Hal senada diungkapkan KF. Pria yang akrab dipanggil Wawan itu juga menyampaikan terima kasih atas dukungan masyarakat. “Bagi kami ini hanya masalah jabatan, tapi kita tetap sama. Duduk sama rendah berdiri sama tinggi,” ujarnya.
Wawan juga mewanti-wanti timnya agar tetap mengawal keunggulan perolehan yang telah diraih Rahman pada putaran kedua. “Kita jangan lagi lalai dan lengah. Pengalaman putaran pertama kita lalai dan lengah. Jadi, mari sama-sama kita kawal keunggulan perolehan suara ini,” ujarnya.
Bagaimana bila KPU punya data berbeda? Rahman menegaskan, data yang dimilikinya diserta dengan para saksi. Keunggulan perolehan sementara tersebut, tegas RY, merupakan kemenangan rakyat. “Kita menang di 37 kecamatan dan kita punya data serta saksi. Silakan berbeda pendapat, tapi tetap kami dong yang dilantik,” paparnya.
Sementara sejumlah pendukungnya berteriak akan bergerak bila KPU mengeluarkan angka yang berbeda dengan hasil perolehan sementara. “Kita akan bergerak,” teriak seorang pendukung Rahman saat konferensi pers.
(http://www.radar-bogor.co.id/index.php?ar_id=MjI3MTY=&click=NzIx)
Wawancara Eksklusif dengan Rachmat Yasin
Berangkat dari Nol Kilometer
Unggul sementara berdasarkan hasil real count Radar Bogor tidak membuat Rachmat Yasin besar kepala. Setelah menerima banyak ucapan selamat dari berbagai pihak, dia bersiap menjalankan program pembangunan Kabupaten Bogor seperti yang digembar-gembornya saat kampanye. Apa saja langkah strategisnya? Berikut petikan wawancara eksklusif dengan Rachmat Yasin saat mengunjungi redaksi Radar Bogor pukul 00:00 WIB dini hari tadi.
Selamat, Anda unggul sementara di hampir semua kecamatan. Faktor apa saja yang menentukan kemenangan pasangan Rahman?
Terima kasih. Begini, masyarakat ada yang kecewa karena Pilbup harus diulang. Itulah sebabnya ada masyarakat simpati pada saya.
Kemudian, ada kesan Rachmat Yasin itu dikeroyok. Ini yang utama. Saya juga melihat, masyarakat Indonesia lebih suka hal-hal yang melo atau yang sedih-sedih. Nah, sudah kemenangan digagalkan, ya dikeroyok juga. Akhirnya, 40 kecamatan kita babat.
Selain itu, faktor popularitas ada pengaruhnya. Sudah sejak tiga tahun saya turun ke masyarakat.
Adakah perubahan yang mendasar dalam sistem birokrasi dan pemerintahan? Apakah Anda sudah menyiapkan kabinet baru?
Saya jadi bupati atau tidak juga pasti ada perombakan. Kenapa? Karena PP No 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah sudah mengisyarakatkan ada reorganisasi. Nah, sekarang kan ada SKPD yang baru sesuai Perda No 11 Tahun 2008.
Ketika perda itu akan digunakan dan kemungkinan saya menjadi bupatinya, ya tetap baru perangkatnya itu. Ya, saya berangkatnya dari nol kilometer. (wawancara disambut gelak tawa di ruang redaksi Radar Bogor)
Apakah semua camat atau kepala dinas akan diganti?
(Rachmat hanya tersenyum).
Bagaimana dengan munculnya krisis global belakangan ini. Apa pengaruhnya bagi Kabupaten Bogor?
Krisis global ini harus kita perhatikan. Sebab, krisis sekarang lebih parah dari krisis sepuluh tahun lalu. Kalau 1998, krisis terjadi di bawah. Sekarang dibalik, krisisnya di atas dan kita terkena imbasnya.
Lalu, apa antisipasinya karena sekarang angka pengangguran di Kabupaten Bogor semakin banyak?
Ya, kita gunakan konsep empowering (pemberdayaan). Untuk Kabupaten Bogor, sebetulnya kita punya potensi memberdayakan masyarakat dengan konsep ekonomi tradisional. Materi itu barter, sebab suplai (pasokan) dan demand (permintaan) terkadang tidak berimbang.
Logikanya begini, di Bogor Barat banyak potensi pertanian. Tapi, kenapa produknya dijual ke Pasar TU (Pasar Induk Kemang, red). Kenapa harus begitu? Kenapa tidak dijual di wilayah Bogor Barat saja. Produknya berasal dari masyarakat dan hasilnya dinikmati juga oleh masyarakat setempat. Jadi, ekonomi konvensional juga akan kita gunakan untuk mengatasi krisis global.
Bagaimana mengelola dana APBD yang mencapai Rp1,9 triliun agar bisa optimal?
Kalau dilihat dari kacamata ekonomi, APBD itu kan adalah modal awal. Kalau kita menggunakan prinsip ekonomi, kita tidak perlu menggunakan modal awal itu, tapi bagaimana kita menggunakan magnet agar bisa menarik uang dari luar.
Hanya saja kelemahannya, kita tidak pernah mengembangkan komoditi ekonomi untuk jadi nilai jual yang bagus dan menguntungkan. Makanya, kita akan mengembangkan ekonomi berbasis pasar.
Gambarannya begini, kenapa setiap musim hujan Jakarta selalu banjir padahal kita yang hujan. Air mengalir ke Jakarta, tapi kita tidak pernah memikirkan tempat pembuangannya bagaimana. Kita ingin sharing bagaimana menangani itu.
Sebenarnya air yang menuju Jakarta mengalir melalui sembilan sungai. Nah, aliran sungai ini terhambat oleh sampah, aliran yang menyempit karena mal dan lain-lain. Sebenarnya ini bisa diatasi, bagaimana? Sumber sampah di Jakarta itu adalah Pasar Kramat Jati.
Di tempat itu barang-barang dari berbagai daerah dikemas sebelum masuk ke Kota Jakarta. Sampahnya dibuang dan masuk tinggal dijual ke masyarakat. Aktivitas ini menjadi kegiatan rutin di sana, dan orang jadi bingung mau buang sampah ke mana? Nah kita bantu mengurangi sampah itu, tapi bagaimana caranya? Kita pindahkan Pasar Kramat Jati ke Bogor.
Semua produk yang datang dari Sukabumi, Cipanas dan lain-lain yang masuk ke Jakarta, sampahnya pasti dibuang ke Bogor. Jika begitu, kenapa produknya harus masuk ke Jakarta dulu jika sampahnya harus dibuang ke Bogor, kenapa tidak di Bogor saja dikemasnya, dan sampahnya tinggal dibuang di tempat yang sama. Kan kita punya punya TPST Bojong.
Ini posisi tawar kita. Biar Jakarta yang memasarkan, tapi kita yang memprosesnya. Kita sudah memikirkan efek dominonya. Jika Pasar Kramat Jati dipindahkan ke Bogor makan akan menyerap tenaga kerja, kemudian kita bisa memberdayakan potensi pertanian.
(http://www.radar-bogor.co.id/index.php?ar_id=MjI3MTc=&click=MTAx)
Jumat, November 28, 2008
Hari Tenang Pertama Nu Sae dan Rahman
Nungki Rileks, RY Istighotsah
BOGOR - Setelah bergulat dengan kampanye selama tiga hari, para calon bupati dan wakil bupati Bogor mulai memasuki hari tenang, kemarin. Apa saja kegiatan mereka? Cukup beragam.
Pasangan Nungki sareng Endang Kosasih (Nu Sae) misalnya, memanfaatkan hari tenang untuk mengevaluasi kampanye. Sedangkan pasangan Rachmat Yasin-Karyawan Faturachman (Rahman) melakukan istighotsah.
Khusus Nu Sae, langsung melakukan konsolidasi dan mengumpulkan para tim sukses serta instrumen pemenangan Pilkada. Termasuk bersama 16 partai pendukungnya.
“Selain konsolidasi, Mas Nungki tampak rileks di rumahnya. Sedangkan Kang Endang menggelar doa bersama di rumahnya,” ungkap Ketua Tim Sukses Nu Sae Dzakaria kepada Radar Bogor, kemarin.
Menurut dia, dengan kekuatan 16 parpol plus kekuatan lokal Ikatan Keluarga Besar Cimande (IKBC), Nu Sae yakin akan mendapatkan hasil yang lebih baik. Untuk itu, pihaknya akan terus memaksimalkan kekuatan, terutama struktur persiapan para saksi saat hari H nanti.
“Komunikasi telah kami jalankan dan pembenahan struktur partai pendukung dan Ormas menjadi kekuatan penuh untuk mengingatkan dan menyosialisasikan Pilbup putaran kedua,” jelas Dzakaria.
Persiapan lainnya, Nu Sae akan mengawal hasil pemungutan suara terutama formulir C 1. Beberapa saksi telah dipersiapkan, terutama pemberian mandat sebelum diserahkan kepada KPPS masing-masing. “Hari tenang pertama ini kami lebih memfokuskan pada saksi yang akan mendapat mandat dalam penghitungan suara nanti,” jelasnya.
Hal senada diungkapkan Ketua DPD PKS Kabupaten Bogor Ade Dodo. Untuk lebih memaksimalkan perolehan suara Nu Sae, kader PKS di Kabupaten Bogor terus melakukan konsolidasi dengan cara terus bersilaturahmi. “Yang terpenting, bagaimana calon yang kita dukung (Nu Sae, red) bisa menang dalam putaran kedua,” tegas Ade.
Bagaimana dengan Rachmat Yasin (RY)? Masa tenang ternyata dimanfaatkan RY untuk beristighotsah di Pondok Pesantren Al-Hidayah di RT 06/05 Kampung Pasirangin Desa Cipayung Kecamatan Megamendung.
RY datang ke Ponpes Al-Hidayah sekitar pukul 15:30 WIB dan langsung melakukan salat ashar berjamaah. Kedatangan RY mendapat sambutan hangat dari para alim ulama dari Kecamatan Megamendung dan Cisarua. “Saya datang ke sini bukan kampanye, tapi atas undangan para ulama,” katanya.
Istighotsah dilakukan, kata RY, agar pencoblosan yang digelar (30/11) berjalan lancar dan damai. “Saya harapkan semua masyarakat menggunakan hak pilihnya,” sambungnya.
Dia pun meminta maaf kepada para alim ulama dan masyarakat yang telah menunggunya sejak pukul 13:00 WIB, karena sebelumnya harus menghadap Megawati Soekarno Putri dan Taufik Kiemas untuk melaporkan perkembangan pasangan Rahman dalam Pilbup putaran kedua. “Pasangan saya berasal dari PDIP, jadi harus ke Ibu Megawati dulu,” katanya.
RY mengklaim pasangan Rahman awalnya didukung 90 persen alim ulama, namun kini telah mendapatkan dukungan 99 persen alim ulama di Kabupaten Bogor. “Sisanya entah mendukung siapa,” bebernya.
Di hadapan ulama yang hadir, RY menceritakan perjalanan kampanyenya yang tidak mengenal lelah. Apalagi sering mendapat undangan dari masyarakat untuk salat subuh berjamaah di daerah yang cukup jauh.
Sementara KH Baden Sundalis yang hadir dalam istighotsah itu mengatakan, pihaknya mendukung Rahman karena menilai sosok RY yang agamis dan berasal dari kalangan alim ulama. “Saya yakin RY akan membawa perubahan Kabupaten Bogor menjadi lebih baik dan diridhoi Allah SWT,” katanya.
(http://www.radar-bogor.co.id/index.php?ar_id=MjI1ODQ=&click=NzQ=)
PDI Perjuangan Resmi Luncurkan Kampanye "Perjuangkan Sembako Murah"
PDI Perjuangan Resmi Luncurkan Kampanye "Perjuangkan Sembako Murah"
Infokom-Media PDI Perjuangan - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) telah resmi meluncurkan program ‘PDI Perjuangan Menawarkan Solusi Kebijakan’. Peluncuran program tersebut merupakan tawaran solusi kepada masyarakat, dari PDI Perjuangan dan Hj Megawati Soekarnoputri sebagai partai oposisi dan sebagai calon Presiden 2009 dari partai oposisi.
"PDI Perjuangan secara resmi melaucing dan mengkampanyekan dan memulai kanpanye dengan isu ‘Perjuangkan Sembako Murah’," kata Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Pramono Anung Wibowo, saat Konfrensi Pers di Megawati Institut di Jl. Proklamasi Raya, Jakarta Pusat, Kamis Siang (27/11).
Dalam program tersebut, PDI Perjuangan juga menawarkan kebijakan-kebijakan yang akan diterapkannya, jika kelak dipercaya rakyat yaitu menata kembali ketimpangan strukrur penguasaan dan pengguanaan tanah yang lebih adil, mempercepat dan membangun jaringan irigasi, menyediakan pupuk dan bibit murah berkualitas, meningkatkan operasi pasar untuk menurunkan harga sembako, memperkuat koperasi Petani, lumbung pangan dan membangun bank petani, serta mengendalikan impor sembako yang merugikan petani dan nelayan.
Enam kebijakan sebagai langkah-langkah memperjuangkan sembako yang harganya tidak melampaui kenaikan pendapatan rata-rata masyarakat Indonesia (sembako murah) tersebut akan menjadi prioritas kerja PDI Perjuangan dan Hj Megawati Soekarnoputri jika kelak dipercaya rakyat untuk memimpin kembali Bangsa ini ke depan lewat pemilu 2009.
Menurut PDI Perjuangan, survey yang telah dilakukan selama ini tema harga sembako yang murah tersebut merupakan tema yang paling kuat di antara tema-tema lain dalam issue ekonomi.
"Di antara semua issue ekonomi, kenaikan harga sembako yang semakin tak terjangkau adalah issue yang paling klusial, issue harga sembako yang tak terjangkau itu banhkan mengalahkan issue pendidikan dan kesehatan, termasuk mengalahkan issue kesempatan kerja," jelasnya.
Untuk lebih mensosialisasikan tawaran solusi tersebut PDI Perjuangan tidak hanya menggantungkannya pada iklan, tapi juga secara langsung mensosialisasikannya kepada masyarakat melalui jajaran struktural, kader maupun simpatisannya, termasuk Ketua Umum pun akan langsung turun melakukan roadshow ke beberapa wilayah di Indonesia timur sekaligus untuk bersilaturahim dengan masyarakat di sana. "Ibu Mega akan akan mensosialisasikan kampanye sembako murah kebeberapa wilayah bagian timur Indonesia," ungkap Sekjen Pramono.
Melalui tawaran solusi dan agenda kerja yang ditawarkan PDI Perjuangan kepada masyarakat tersebut, PDI Perjuangan berupaya memberikan pendidikan politik kepada masyarakat sehingga masyarakat dapat memberikan penilaian secara obyektif tentang Partai dan calon Presiden yang mana yang paling siap memimpin Bangsa ini ke depan. Artinya, PDI Perjuangan tidak ingin hanya meneriakkan jargon-jargon. "Tetapi memberikan jalan keluar kebijakannya," tandas Sekjen.
PDI perjuangan yakin, apabila diberi kesempatan untuk memimpin Bangsa kembali bangsa ini, hal-hal yang ditawarkan sebagai solusi alternatif untuk memperbaiki harga sembako menjadi hal yang prioritas utama dalam kampanye PDI Perjuangan. "PDI Perjuangan dan Ibu Mega mempunyai pengalaman ketika memimpin pemerintah pada waktu itu lebih baik dari Pemerintahan sekarang," lanjutnya.
(http://www.pdi-perjuangan.or.id/content/view/2073/135/)
F-PDIP Serukan Tak Patuhi SKB 4 Menteri
Jakarta, Dikeluarkannya surat keputusan bersama (SKB) empat menteri mendapat reaksi keras dari oposisi.
Fraksi PDI Perjuangan mendesak pemerintah mencabut SKB yang dinilai akan memerburuk nasib buruh itu. F-PDIP juga akan menggunakan hak interpelasinya bila pemerintah nekat meneruskan kebijakan tersebut.
Ketua Komisi IX Ribka Tjiptaning mengimbau buruh untuk menentang kebijakan tersebut. Dia juga mendesak para gubernur dan bupati untuk tetap mengacu pada UU 13/2003 tentang ketenagakerjaan.
Sebab, UU itu sudah mengatur upah minimum propinsi dan upah minimum kabupaten/kota. Menurut dia, masalah upah tidak bisa diserahkan sebagai urusan bipartit (dua pihak) antara pengusaha-buruh.
Perlu kebijakan pemerintah yang melindungi kehidupan buruh, melalui mekanisme tripartit, tandasnya..
SKB, lanjut politikus PDIP itu, jelas akan memperburuk kehidupan buruh yang selama ini sudah terpuruk. Kebijakan itu tidak ramah dan cenderung mengeksploitasi hak-hak buruh.
SKB itu juga tidak membantu pengusaha dalam mencegah PHK. Sebab, akar persoalan krisis ini bukan pada tingginya upah buruh, melainkan menurunnya daya serap pasar dunia.
Menanggapi krisis global dengan mengeluarkan SKB merupakan kebijakan panik, mengada-ada, dan salah alamat, katanya.
Ribka menambahkan, kenaikan upah seharusnya didasarkan pada tingkat inflasi. Bukan dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi.
Untuk mempertahankan kehidupan buruh, upah harus naik minimal sama dengan tingkat inflasi, tambah penulis buku Aku Bangga Menjadi Anak PKI itu.
Dia memaparkan pertumbuhan ekonomi saat ini yang hanya mencapai rata-rata enam persen. Padahal, inflasi sudah mencapai sebelas persen.
Jika kenaikan upah dibatasi seperti dalam SKB berarti pemerintah by design memperburuk kehidupan buruh, ujarnya.
Penetapan upah hanya dengan mekanisme bipartit, tanpa ketelibatan pemerintah, dinilai tidak sesuai dengan UU 13/2003 tentang Ketenagakerjaan. Dipaparkannya, dalam Bab II pasal 88 (2) untuk mewujudkan penghasilan yang memenuhi penghidupan layak bagi kemanusiaan, pemerintah menetapkan skebijakan pengupahan yang melindungi buruh atau pekerja.
Masalah bipartit menunjukkan pemerintah mengabaikan tanggung jawabnya dalam melindungi kepentingan buruh, jelasnya.
(rakyatmerdeka.co.id)