Sabtu, Desember 06, 2008

Terima Kasih kepada seluruh warga Bogor, Semoga kami dapat mengemban amanah Rakyat

Terima Kasih kepada seluruh warga Bogor, Semoga kami (Rahmat Yasin dan Karyawan Fathurachman) dapat mengemban amanah Rakyat


Kehidupan dapat kita ibaratkan ibarat roda yang menggelinding dan akan terus berputar sampai akhir hayat. Demikian pula halnya dengan pemerintahan, Sang arsitek Maha Agung telah mengatur melalui siklus supra dan supernatural dimana tidak ada kekuatan lain yang mampu mencegah atau menghambatnya, yang dalam keseharian fenomena ini kita sebut sebagai rotasi, perubahan, pergantian, atau penggiliran.

Kemenangan RAHMAN dalam pilkada Kabupaten Bogor bukanlah karena kehebatan Rahmat Yasin dan Karyawan Fathurachman melainkan telah digariskan dalam takdir Ilahi, dimana kita semua baik yang dipilih maupun yang memilih hanya bersyariat untuk berada dalam sistem tersebut dengan membaca dan mengenali serta menterjemahkan gejala perubahan dimaksud.

Kami hanya dapat menghaturkan terima kasih kepada seluruh warga bogor, semoga kami (Rahmat Yasin dan Karyawan Fathurachman) dapat mengemban amanah untuk menjalani babak baru ini dalam ridhoNya dalam mewujudkan semua harapan dan keinginan kita bersama memakmurkan warga bogor. Amin.

MERDEKA!!!

Catatan Harian
www.wawankusnun.blogspot.com
http://profiles.friendster.com/wawankusnun

Jumat, Desember 05, 2008

PPP-PDIP Bidik Lumbung Golkar

PPP-PDIP Bidik Lumbung Golkar

Bogor-Pertempuran di ajang Pilbup Bogor baru saja usai. Namun, pertempuran babak baru segera dimulai jelang Pemilihan Legislatif. Caleg-caleg andalan dari parpol besar kembali berjibaku memperebutkan suara terbanyak untuk menjadi wakil rakyat.

Hal ini juga berlaku di Daerah Pemilihan (Dapil) VI yang selama ini dikenal sebagai lumbung suara Partai Golkar. Mengacu pada hasil Pileg 2004, mayoritas kecamatan yang masuk di dapil ini dikuasai mutlak oleh Golkar. Namun, itu cerita empat tahun yang lalu. Tahun depan ceritanya bisa lain jika partai berlambang pohon beringin ini tidak segera merapatkan barisan dan menyelesaikan masalah internal partai.

Seperti diberitakan Jurnal Bogor, kemarin, sejumlah pengurus kecamatan (PK) Golkar melontarkan mosi tidak percaya pada Ketua DPD Partai Golkar, H. Fitri Putra Nugraha alias Nungki. Salah satu penyebabnya, karena secara mendadak –tiga hari jelang pencoblosan—semua saksi di 7.019 TPS yang semula kader golkar, semuanya diganti oleh saksi dari PKS. Inilah yang ditengarai membuat kader militan Golkar sakit hati.

Jika tidak segera dibenahi, Dapil VI akan menjadi makanan empuk bagi politisi dari PPP dan PDIP yang baru saja sukses mengantarkan jago mereka, pasangan Rachmat Yasin-karyawan Fathurachman (Rahman) memenangkan Pilbup Bogor. Sebab, tidak menutup kemungkinan suara kader dan simpatisan Golkar akan dialihkan ke parpol lain, termasuk parpol-parpol baru yang dibidani oleh mantan tokoh Golkar, sebut saja Hanura dan Gerindra yang makin gencar melakukan konsolidasi di Bogor.

Lantas, siapa jago PPP dan PDIP di Dapil VI? PPP menempatkan new comer Rifdian Suryadharma di nomor urut satu. Meski pendatang baru, karakter mantan aktivis buruh ini dianggap cocok untuk meladeni ketangguhan dan nama besar caleg-caleg muka lama sarat pengalaman dari parpol lainnnya di dapil ini, sebut saja Hj Ratu Nailamuna, nomor urut dua dari Golkar, dan Wawan Risdiawan caleg nomor urut satu PDIP untuk Dapil VI.

”Saya diperintahkan Ketua DPC PPP untuk berjuang di Dapil VI. Tidak mudah memang, karena banyak banyak caleg berpengalaman. Namun, saya tidak surut untuk melangkah. Pendekatan langsung ke masyarakat membuat saya optimis meraih hasil maksimal,” ujarnya kepada Jurnal Bogor di Cibinong, kemarin.

Di dapil yang menyediakan 8 kursi ini, rivalitas caleg antar-parpol bakal sengit. Rifdian sendiri memprediksi harus bekerja keras dan memanaskan mesin partai sejak dini untuk bisa berjaya di dapil ini. Tanpa bermaksud meremehkan caleg lain, secara khusus, Rifdian menyebut nama Wanli sapaan akrab Wawan Risdiawan dan Hj Ratu Nailamuna alias Teh Tatu sebagai pesaing serius. “Jam terbang tinggi, dan sudah dikenal. Punya massa pemilih tradisional yang cukup banyak. Tapi, sekali lagi. Saya tidak gentar. Pengalaman menggalang jaringan semasa Pilbup jadi modal berharga bagi saya,” ujarnya.

Untungnya, lanjutnya Rifdian, Tatu ada di nomor urut dua. Sedangkan caleg nomor satu Golkar di dapil ini, yaitu Hidayat Royani, menurut Rifdian belum lah memiliki massa sebanyak Tatu dan Wanli.

Karena itu, di dapil yang meliputi kecamatan Gunungsindur, Ciseeng, Parungpanjang, Bojonggede, Kemang, Rancabungur, dan Tajurhalang, Rifdian bakal rajin menyambangi masyarakat. ”Momentum kemenangan Rahman tidak boleh lewat. Tidak ada waktu untuk berleha-leha. Saya harus segera membangun jaringan akar rumput yang solid, dan untuk itu saya harus datang ke semua wilayah,” jelasnya.
(www.jurnalbogor.com)

Selasa, Desember 02, 2008

Kenapa Rachmat Yasin Bisa Menang?

Kenapa Rachmat Yasin Bisa Menang? 
Pagi di Jonggol, Sore Sudah di Nanggung 


KONSISTEN bersikap dan fokus pada hasil menjadi kunci utama kesuksesan Rachmat Yasin (RY) merebut suara tertinggi dalam pemilihan bupati (Pilbup). Selama tiga tahun RY menyiapkan diri untuk berlaga dalam Pilbup. Selama itu pula dia fokus menjaga emosi, strategi politik adiluhung dan tanpa lelah berkeliling Kabupaten Bogor. 

Hasrat politik RY sudah muncul selepas lulus SMAN 1 Kota Bogor. Karena itu, dia memilih kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Universitas Nasional Jakarta. Di kampus itu, RY mengenal dunia politik dan organisasi dengan menjadi anggota Badan Perwakilan Mahasiswa Fisip.

Saat remaja, RY yang tumbuh dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU) terpilih sebagai ketua Gerakan Pemuda (GP) Anshor Kabupaten Bogor. Kiprahnya di dunia organisasi kepemudaan makin lempang saat beliau dipercaya sebagai pengurus DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Bogor pada 1982-1991.

RY lantas masuk Gedung DPRD sebagai anggota dewan pada 1997-1999. Periode berikutnya (1999-2004) RY terpilih lagi. Pada periode tersebut insting politik kader PPP itu mulai tajam, sehingga terpilih menjadi ketua Komisi C dan ketua panitia anggaran. Langkahnya di gedung dewan semakin mantap. Terbukti periode selanjutnya dia terpilih sebagai ketua DPRD Kabupaten Bogor.

Setelah dua tahun duduk di puncak politik legislatif, munculah niat untuk duduk kursi kekuasaan. Secara perlahan, putra kedua dari sembilan bersaudara pasangan (alm) HM Yasin–Hj Nuryati itu terus memoles langkah politiknya menuju kursi bupati. Dia berkeliling dari satu kecamatan ke kecamatan lain di Kabupaten Bogor untuk membangun citra.

Suami Hj Eli Halimah itu terus membangun karakter dengan menyentuh semua lapisan masyarakat. Dia bersilaturahmi dengan siapa saja dan mau merangkul orang tanpa pandang umur. "Setiap kali saya kampanye, anak kecil saja berlari sambil menyebut nama saya. Kalau anak kecil saja sudah tahu, orangtuanya pasti mengetahui saya," cerita Rachmat saat berkunjung ke Radar Bogor dini hari kemarin.

Di ‘rumah politiknya’ PPP, dia juga mengatur langkah. Setelah menjabat sebagai sekretaris DPC Kabupaten Bogor dua periode, RY melenggang menjadi ketua DPC PPP Kabupaten Bogor pada Muscab ke-IV di Dramaga Kabupaten Bogor pada 2003. Kali kedua di Musyawarah Cabang (Muscab) ke-V di Cipayung Puncak, dia juga terpilih secara aklamasi sebagai ketua DPC PPP Kabupaten Bogor periode 2006-2011. Dalam Muscab tersebut, lahirlah salah satu rekomendasi Muscab agar DPC PPP Kabupaten Bogor mengusung RY sebagai calon bupati Bogor periode 2008-2013.

Sejak itulah, RY mulai menciptakan peta politik Pilbup Bogor. Menuju puncak kekuasaan itu, dia selalu berpikir keras dan cerdas untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan masyarakat Kabupaten Bogor. Termasuk mengelola perilaku konstituen dan perilaku politik Kabupaten Bogor. Dia juga mengoptimalkan proses kampanye, segmentasi, targeting dan positioning. Dia tak tanggung-tanggung dalam membangun citra, sehingga meladeni semua bentuk promosi, termasuk yang konvensional. Tentu saja dia juga terus konsisten mencitrakan dirinya sebagai 'orang paling bersahabat' di Kabupaten Bogor hingga putaran kedua Pilbup.

Di kalangan tim suksesnya, RY yang bersanding dengan Karyawan Faturachman tak pernah lelah menelusuri setiap jengkal tanah Kabupaten Bogor. Pagi masih di Kecamatan Jonggol, sorenya sudah di Nanggung. Lantas besoknya ada di Rumpin, lima jam kemudian nongkrong di kawasan Puncak. Itu terus-menerus dilakukannya, sehingga 400 desa/kelurahan di Kabupaten Bogor sudah disinggahinya.

"Wih... Luar biasa mengikuti RY. Energinya harus kuat kalau mau mengikuti langkah dia," kata David Rizar Nugroho yang menjadi juru bicara pasangan Rahman selama kampanye.

RY sendiri mengakui hari-harinya selalu penuh dengan silaturahmi. Jalan becek, tanah licin hingga lumpur sawah dijejakinya. Dia mengaku selalu membuka rumahnya di Jalan Dramaga Tanjakan 24 jam untuk siapa saja tanpa kontrol ketat. Istrinya pun tak pernah risih dengan hilir-mudik oranglain di rumahnya.

Dia juga tak memberi sekat khusus dengan pencari berita. Setiap pertanyaan wartawan, dijawabnya secara diplomatis. Setiap permintaan wawancara selalu disanggupinya, meskipun tengah malam.

Berapa uang yang dihabiskan untuk kampanye Rachmat? Banyak yang memperkirakan, langkah RY menuju kursi bupati telah menghabiskan Rp30 miliar. Ke mana saja dana itu dihabiskan? Untuk apa saja?

Pengamatan di lapangan, Rachmat paling banyak menebar suvenir dan reklame. Dia mencetak suvenir dengan wajahnya di gelas, pin, kalender hingga kerudung. Di hampir tempat strategis di setiap kecamatan, fotonya juga banyak terpasang dalam reklame kecil hingga raksasa.

Rahman juga diperkirakan paling banyak membelanjakan anggaran untuk iklan di media cetak serta elektronik ketimbang pasangan lainnya. Rahman setidaknya membayar minimal Rp250 juta untuk iklan di tiga media lokal, satu televisi lokal, satu televisi nasional, termasuk radio di Bogor. Itu belum termasuk belanja politik, ongkos lobi, transportasi kader dan logistik lainnya.

Namun, David sebagai juru bicara buru-buru membantahnya bahwa Rahman telah mengeluarkan uang sebesar itu. Menurut dia, pada putaran pertama pasangan Rahman hanya menghabiskan Rp1 miliar lebih. Sedangkan putaran kedua menghabiskan Rp360 juta. "Suvenir itu berasal dari sumbangan banyak orang. Reklame juga begitu," kata David.

Khusus putaran dua, uang sebesar itu dikeluarkan untuk ongkos saksi pada hari H pencoblosan 30 November lalu. "Sebenarnya saksi itu tidak dibayar. Tapi, kami harus memperhatikan itu untuk sekadar uang bensin," terang David.

Selain kuatnya karakter dan konsistennya sikap RY menuju kursi bupati, banyak tokoh penting yang berperan besar di baliknya. Selain dukungan moril kuat sebagian pejabat dan kepala desa Kabupaten Bogor, setidaknya ada tujuh nama di belakang layar pasangan Rahman, diluar solidnya PDI Perjuangan Kabupaten Bogor.

Mereka adalah Teuku Hanibal, ketua Fraksi PPP DPRD Kabupaten Bogor. Dia juga sebagai ketua tim sukses. Kemudian Wawan Risdiawan sebagai sekretaris tim sukses yang juga ketua Komisi C DPRD Kabupaten Bogor dari PDI Perjuangan Kabupaten Bogor.

H Rudi Ferdinand juga disebut-sebut sebagai tokoh kunci dalam mendorong kendaraan politik Rachmat Yasin. Dia disebut-sebut sebagai penyokong dana utama untuk bensin kampanye Rachmat. Pria yang kerap disapa Rudi Bule itu adalah seorang pengusaha, sedangkan di organisasi tim sukses duduk sebagai bendahara.

Nama lainnya adalah Rifdian Suryadarma. Dia merupakan ketua Koalisi Buruh Bogor yang juga duduk sebagai direktur Kampanye Pasangan Rahman. Tokoh lainnya adalah Zaenul Mutaqien yang juga seorang profesionl muda merangkap sebagai direktur logistik.

Kemudian KH Nu’man Istikhori sebagai guru spiritual RY. Tokoh ulama ini banyak berperan memberikan pendidikan emosi selama berkampanye. Setelah itu ada Abidin Said. Tokoh Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Bogor itu adalah direktur RY Center yang turut mencitrakan Rachmat pada 1 Juni 2007.

RY Center merupakan kumpulan relawan-relawan yang membantu pencitraan Rahmat Yasin. RY Center juga merupakan pusat pertemuan Rahmat Yasin dengan publik, akademisi, pengamat, tokoh masyarakat, media serta pimpinan orpol dan ormas.

Di kalangan profesi wartawan, nama David Rizar Nugroho juga dianggap sebagai sosok kuat yang bisa mengkomunikasikan keinginan media massa terhadap RY. Selama putaran pertama, dosen Unpak dan IPB itu mampu menjembatani model kerja wartawan sehingga mampu mendapatkan informasi aktual dari segala aktivitas Rachmat. 
(http://www.radar-bogor.co.id/index.php?ar_id=MjI3OTI=&click=MTcw)

Janji Terus Kontrol Kabinet Rahman

Janji Terus Kontrol Kabinet Rahman
Nu Sae Siap Jadi Oposisi 


BOGOR - Kekalahan yang dialami Nu Sae dari Rahman tak membuat kubu yang diusung Partai Golkar itu meradang. Mereka segera mengevaluasi kinerja tim selama Pilbup berlangsung.

Humas Nu Sae Hidayat Royani mengatakan, pihaknya bersama partai pendukung lainnya akan melakukan evaluasi. Gejolak Pilkada menjadi bukti untuk melihat kelemahan yang dijalankan masing-masing pendukung. "Secara ikatan ideologi, tidak ada yang salah dengan keputusan mengusung Fitri Putra Nugraha (Nungki) dan Endang Kosasih. Karena itu sudah menjadi keputusan bersama," tegas Hidayat kepada Radar Bogor, tadi malam.

Hidayat menjelaskan, sifat pragmatis dari titik kelemahan dalam sosialisasi pasangan Golkar itulah yang akan menjadi gambaran. Artinya, evaluasi nanti bukan berarti harus mencari-cari kesalahan pihak lain ataupun mengkambinghitamkan seseorang. Yang akan dilakukan, bagaimana visi misi Nu Sae yakni mementingkan perubahan dan perbaikan ke arah lebih baik bisa dilaksanakan bupati mendatang. “Kami akan lakukan evaluasi, terutama belajar dari kekalahan guna mengontrol pemerintahan Rahman ke depan,” katanya.

Lalu bagaimana tanggapan Nu Sae atas keunggulan yang diraih Rahman? Hidayat Royani menuturkan, kemenangan Rahman telah membuktikan secara umum dalam Pilkada di Indonesia peran partai politik tidak terlalu dominan. Justru peran figur baik secara tingkat popularitas dan elektabilitas dapat menentukan kemenangan calon. Selain itu, peran kemampuan ekonomi dan kekuatan tim sukses juga menjadi penentu kemenangan.

Kendati Golkar kalah dalam Pilkada, bukan berarti dalam pemilihan legislatif (Pileg) partainya akan menyerah. Melainkan berusaha menempatkan sebanyak mungkin kader Golkar di legislatif.

"Nantinya diharapkan dapat berperan sebagai kekuatan oposisi kritis dan konstruktif. Alasan menjadi opisisi bukanlah upaya politik balas dendam, melainkan berusaha mempunyai peran guna mengontrol pemerintahan Rahman agar tidak sewenang-wenang dan korupsi," papar Hidayat.Pihaknya juga berharap pemerintahan Rahman ke depan amanah dengan mengedepankan kepentingan rakyat Kabupaten Bogor dan bukan kepentingan kelompok maupun partainya.

“Secara pribadi saya sudah mengucapkan selamat kepada Rahman,” tuturnya.


Camat Mulai Merapat

Sementara di tengah spekulasi Rachmat Yasin (RY) akan merombak jajaran birokrasi Pemda Kabupaten Bogor pasca pelantikan nanti, kemarin sejumlah camat mulai merapat ke Rahman. Meski begitu belum tampak adanya para kepala dinas.

Di samping para kolega, rekan bisnis, sanak saudara dan sejumlah birokrat juga terus membanjiri rumah Rachmat Yasin di Dramaga. Sejak pagi, RY tak henti-hentinya menerima tamu yang mengucapkan selamat dan sukses atas keunggulan suaranya dalam Pilbup putaran kedua.

Di pelataran belakang rumah, ratusan simpatisan berkumpul. Ditemani kawan setianya, Rudi Ferdian, RY terus berjabat tangan dengan tamu yang berdatangan.

RY juga tampak berbincang serius mengenai rencana kepemimpinannya bila sudah dilantik menjadi bupati Kabupaten Bogor. Dia membutuhkan orang-orang yang bisa diandalkan untuk membawa perubahan bagi Kabupaten Bogor ke depan. “Saya butuh mereka yang bisa diandalkan,” katanya saat diskusi kecil dengan para tamu.

Juru Bicara Rahman David Rizar Nugroho mengatakan, seharian kemarin RY tidak melakukan kegiatan apa pun dan hanya berdiam diri di rumah menerima para tamu yang berdatangan mengucapkan selamat. Tamu-tamu yang datang mulai dari kades, camat, ulama dan rengrengan serta tim sukses dari berbagai daerah di Kabupaten Bogor.

Menurut David, RY akan tetap menghormati keputusan akhir KPU Kabupaten Bogor, meski perkembangan suara terus dipantau dan tidak jauh berbeda dengan hasil real count media. “RY tetap akan menghormati penghitungan akhir oleh KPU, meski hasil pemantau kami perkembangan hasil itu tidak berbeda jauh,” ujarnya.

Mandat yang diterima RY, kata David, sangat kuat untuk kepemimpinan baru dan langsung bekerja menyelesaikan berbagai persoalan di Kabupaten Bogor. Yakni bagaimana Rahman membangun Kabupaten Bogor dengan visi dan misi yang baru.

Sedikitnya 23 kecamatan sudah merampungkan pleno suara pemilihan bupati Bogor, kemarin. Suara yang masuk dari 23 kecamatan itu sebanyak 921.759 yang dimenangkan Rahman sebanyak 64,13% 
dan pasangan Nu Sae 35,87%.

Hasil pleno 23 kecamatan itu, pasangan Rahman menang besar di Dramaga dengan 82,65%. 
Sedangkan Nu Sae hanya merebut 17,35%. Suara terbesar kedua Rahman ada di Jasinga dengan 70,72 persen. Sedangkan Nu Sae hanya mendapatkan 29,28%. Padahal di kecamatan pada putaran pertama yang unggul adalah pasangan Djurus dengan posisi kedua Rahman.

Di 23 kecamatan itu juga, keunggulan tipis Rahman hanya di Sukamakmur. Di sana dia merebut 50,50% dan Nu Sae 49,50%. Selebihnya, Rahman unggul besar di atas 60%.
(http://www.radar-bogor.co.id/index.php?ar_id=MjI3NzA=&click=MjM3)

Senin, Desember 01, 2008

Nu Sae Akui Kemenangan Rahman

Nu Sae Akui Kemenangan Rahman

CIBINONG – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bogor belum mengeluarkan pengumuman resmi hasil perolehan suara Pilbup putaran kedua, namun tim Nu Sae melalui juru bicaranya Hidayat Royani lebih awal mengakui keunggulan pasangan Rahman ketika penghitungan perolehan suara masih berlangsung, kemarin.

Pernyataan Hidayat dilontarkan setelah melihat data perolehan suara sementara yang dikeluarkan PKS, parpol yang empat hari menjelang Pilbup putaran kedua menyatakan dukungannya secara resmi kepada Nu Sae. 

“Dari hasil penghitungan suara sementara, kami mengakui kemenangan Rahman,” ujar Hidayat sedikit lesu menjawab dan bernada kecewa ketika dihubungi Radar Bogor melalui ponselnya. 

Hidayat secara gentle (ksatria) juga mengakui langkah tim Rahman secara teknis lebih unggul serta didukung kekuatan sumber dana yang memadai. Namun, Hidayat sedikit kecewa terhadap kemenangan telak pasangan Rahman. Ia mengaku menerima laporan dari beberapa kecamatan tentang praktik money politic (politik uang) yang dilakukan Rahman. Dirinya meminta agar aparat yang berwenang, yakni Panwas dan aparat kepolisian, segera memproses secara hukum. 

Hidayat sangat menghendaki hukum harus ditegakkan sebagai bagian dari proses pendidikan politik, sehingga ke depan praktik seperti itu tidak terjadi lagi. 

Terlepas dari cara apapun yang digunakan tim Rahman, Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Bogor ini tetap memuji kemenangan rival Nu Sae itu. “Yang pasti, Allah telah menentukan keputusannya memenangkan Rahman untuk memimpin Kabupaten Bogor lima tahun ke depan,” katanya pasrah.

Sementara itu, calon bupati Fitri Putra Nugraha (Nungki) usai penghitungan perolehan suara di TPS, ketika berusaha dikonfirmasi sudah sulit dihubungi. Nada dering di handphone-nya terdengar aktif tapi tak kunjung ada jawaban. Pesan pendek (SMS) pun tidak pernah dibalas.

Beberapa orang terdekat Nungki yang sempat dihubungi Radar Bogor pun mengaku tidak bisa menghubungi calon orang nomor satu di Kabupaten Bogor itu. Hidayat juga tak menampik kalau sempat berusaha berkomunikasi dengan Nungki tapi susah dihubungi. Salah satu orang terdekatnya pun demikian ketika Radar Bogor ingin mengetahui keberadaan Nungki. 

Masih penasaran terhadap keberadaan Nungki, Radar Bogor menyempatkan diri mendatangi tiga rumah yang sering disinggahinya. Rumah pertama yakni rumah dua tingkat di Perumahan Puri Nirwana. Di rumah itu tampak kosong karena tak ada orang yang menungguinya. 

Pagarnya tertutup dan lampu kamar atas saja yang menyala. Hanya teronggok satu poster besar bergambar Nungki dan calon wakil bupati Endang Kosasih dengan latar belakang warna kuning yang tertempel di pintu parkir rumah.

Rumah berikutnya di Perumahan Bumi Sentosa di Kelurahan Karadenan Kecamatan Cibinong. Rumah yang tergolong masih baru ini merupakan salah satu tempat beristirahat calon wakil bupati Endang Kosasih. Namun, di rumah ini pun terlihat lengang. Pintu rumah tertutup dan tidak ada tanda orang berada di dalamnya.

Rumah terakhir yang Radar Bogor datangi yakni di Perumahan Mutiara Sentul. Di rumah bergaya minimalis ini terlihat orang-orang yang selalu ikut saat pasangan Nu Sae berkampanye. Namun, ketika Radar Bogor menanyakan keberadaan Nungki, mereka semua menggeleng. 

“Tadi sih Nungki sempat ke sini, tapi tidak lama langsung pergi entah ke mana,” ujar seorang di antara mereka yang tinggal di rumah tersebut.
Sebelumnya, saat Nungki menyalurkan hak pilihnya di TPS 01 Kampung Banceuy Desa Babakanmadang Kecamatan Babakanmadang, ia berjanji akan mendatangi kantor DPD Partai Golkar sekitar pukul 15:00 WIB untuk bersama-sama melihat hasil penghitungan suara. 

Namun, hingga pukul 16:00 WIB Nungki tak kunjung tiba. Kantor DPD Partai Golkar pun lengang. Tidak banyak yang datang ke kantor berwarna kuning ini.
Menanggapi hal ini, Hidayat yakin Nungki dan Endang Kosasih secara mental telah siap menerima konsekuensi dari proses demokrasi ini. Demikian juga tim sukses dan masyarakat yang mendukung Nu Sae. 

“Yang terpenting setelah proses ini seluruh masyarakat Kabupaten Bogor yang semula berbeda pilihan dapat berasimilasi kembali untuk menjaga kedamaian di tengah masyarakat,” harap Hidayat.
(http://www.radar-bogor.co.id/index.php?ar_id=MjI3MTk=&click=MzM4)

Menang Besar di Semua Kecamatan, Rahman Ruarrr Biasa..!

Menang Besar di Semua Kecamatan
Rahman Ruarrr Biasa..!

BOGOR – Rachmat Yasin-Karyawan Faturachman (Rahman) memang ruarr biasa (baca luar biasa). Pasangan bernomor urut 5 ini menang besar alias unggul mutlak atas pasangan Nungki sareng Endang Kosasih (Nu Sae) pada Pilbup putaran kedua, kemarin. Rahman menang telak hampir di semua kecamatan se-Kabupaten Bogor. 

Berdasarkan data sementara hasil quick count (penghitungan cepat) Lingkaran Survei Indonesia (LSI), perolehan suara Rahman mencapai 63,55%, sedangkan Nu Sae 36,45 % dengan partisipasi pemilih 54,48 % dan golput 45,52%. Quick count tim Rahman juga memperlihatkan hasil yang hampir sama, di mana Rahman mengumpulkan suara 892.936 (64.40%) dan Nu Sae 493.623 (35.60%). Total suara yang masuk hingga pukul 23:00 WIB sudah 90 persen.

Keunggulan Rahman juga tampak dari real count versi Radar Bogor. Rahman menyapu bersih perolehan suara 40 kecamatan di Kabupaten Bogor. Di semua kecamatan, pasangan ini menang di atas 52 persen. Di kecamatan Dramaga, Rahman menang luar biasa dengan 82,68 persen. 
 
Bagaimana dengan real count KPU Kabupaten Bogor dan tim Nu Sae? Hingga tadi malam, baik KPU maupun Nu Sae, keduanya tidak mengeluarkan data penghitungan sementara.

Nu Sae beralasan, data perolehan suara sementara hanya untuk kalangan internal dan belum bisa dipublikasikan. Sedangkan KPU jauh-jauh hari sudah mengumumkan tak akan mengeluarkan data penghitungan sementara sebelum pleno dilangsungkan.

Ya, keunggulan Rahman di atas 60 persen tersebut memang di luar dugaan. Sebelumnya, para pengamat politik memperkirakan pertarungan Rahman dengan Nu Sae bakal ketat. Prediksi itu wajar, mengingat Nu Sae yang beberapa hari sebelum pencoblosan melakukan koalisi dengan PKS, Partai Demokrat dan dukungan IKBC.  

Tapi kenyataannya justru Rahman unggul. Koalisi Rakyat yang digalang Rahman sukses menjaring dukungan lebih luas. Selain itu, faktor kepopuleran Rahman juga terus mendongkrak tim Rahman.

Lalu, bagaimana reaksi Rachmat Yasin (RY) dan Karyawan Faturachman (KF)? Mereka menganggap keunggulan tersebut ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi ada kegembiraan dan di sisi lain merupakan konsekuensi untuk memberikan harapan baru kepada masyarakat Kabupaten Bogor. 

“Inalillahi wainna illaihi rojiun. Ini adalah tanggung jawab besar yang harus kami perjuangkan karena merupakan amanah masyarakat Kabupaten Bogor. Kabupaten Bogor harus lebih baik dan maju,” tegas RY yang didampingi wakilnya Karyawan Faturahman dan Wawan Risdiawan saat konferensi pers di kediaman RY di Dramaga, kemarin.

Mantan Ketua DPRD Kabupaten Bogor ini mengatakan, setelah hasil unggul sementara yang diraihnya, RY-KF akan segera bersilaturahmi kepada rivalnya Nu Sae. “Kami akan segera bersilaturahmi ke Nu Sae,” kata RY.

RY juga berjanji menganut pemerintahan yang akomodatif dan terbuka. Artinya, pemerintahan yang dipimpinnya nanti akan merangkul semua kalangan. Selebihnya, RY juga berterima kasih atas dukungan masyarakat dan sejumlah parpol serta ormas yang sudah bergabung mendukung Rahman.

Hal senada diungkapkan KF. Pria yang akrab dipanggil Wawan itu juga menyampaikan terima kasih atas dukungan masyarakat. “Bagi kami ini hanya masalah jabatan, tapi kita tetap sama. Duduk sama rendah berdiri sama tinggi,” ujarnya.

Wawan juga mewanti-wanti timnya agar tetap mengawal keunggulan perolehan yang telah diraih Rahman pada putaran kedua. “Kita jangan lagi lalai dan lengah. Pengalaman putaran pertama kita lalai dan lengah. Jadi, mari sama-sama kita kawal keunggulan perolehan suara ini,” ujarnya.

Bagaimana bila KPU punya data berbeda? Rahman menegaskan, data yang dimilikinya diserta dengan para saksi. Keunggulan perolehan sementara tersebut, tegas RY, merupakan kemenangan rakyat. “Kita menang di 37 kecamatan dan kita punya data serta saksi. Silakan berbeda pendapat, tapi tetap kami dong yang dilantik,” paparnya.

Sementara sejumlah pendukungnya berteriak akan bergerak bila KPU mengeluarkan angka yang berbeda dengan hasil perolehan sementara. “Kita akan bergerak,” teriak seorang pendukung Rahman saat konferensi pers.
(http://www.radar-bogor.co.id/index.php?ar_id=MjI3MTY=&click=NzIx)

Wawancara Eksklusif dengan Rachmat Yasin

Wawancara Eksklusif dengan Rachmat Yasin
Berangkat dari Nol Kilometer


Unggul sementara berdasarkan hasil real count Radar Bogor tidak membuat Rachmat Yasin besar kepala. Setelah menerima banyak ucapan selamat dari berbagai pihak, dia bersiap menjalankan program pembangunan Kabupaten Bogor seperti yang digembar-gembornya saat kampanye. Apa saja langkah strategisnya? Berikut petikan wawancara eksklusif dengan Rachmat Yasin saat mengunjungi redaksi Radar Bogor pukul 00:00 WIB dini hari tadi. 

  
Selamat, Anda unggul sementara di hampir semua kecamatan. Faktor apa saja yang menentukan kemenangan pasangan Rahman?

Terima kasih. Begini, masyarakat ada yang kecewa karena Pilbup harus diulang. Itulah sebabnya ada masyarakat simpati pada saya. 

Kemudian, ada kesan Rachmat Yasin itu dikeroyok. Ini yang utama. Saya juga melihat, masyarakat Indonesia lebih suka hal-hal yang melo atau yang sedih-sedih. Nah, sudah kemenangan digagalkan, ya dikeroyok juga. Akhirnya, 40 kecamatan kita babat. 

Selain itu, faktor popularitas ada pengaruhnya. Sudah sejak tiga tahun saya turun ke masyarakat.  

 
Adakah perubahan yang mendasar dalam sistem birokrasi dan pemerintahan? Apakah Anda sudah menyiapkan kabinet baru? 

Saya jadi bupati atau tidak juga pasti ada perombakan. Kenapa? Karena PP No 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah sudah mengisyarakatkan ada reorganisasi. Nah, sekarang kan ada SKPD yang baru sesuai Perda No 11 Tahun 2008. 

Ketika perda itu akan digunakan dan kemungkinan saya menjadi bupatinya, ya tetap baru perangkatnya itu. Ya, saya berangkatnya dari nol kilometer. (wawancara disambut gelak tawa di ruang redaksi Radar Bogor)

Apakah semua camat atau kepala dinas akan diganti? 

(Rachmat hanya tersenyum). 

 
Bagaimana dengan munculnya krisis global belakangan ini. Apa pengaruhnya bagi Kabupaten Bogor?

Krisis global ini harus kita perhatikan. Sebab, krisis sekarang lebih parah dari krisis sepuluh tahun lalu. Kalau 1998, krisis terjadi di bawah. Sekarang dibalik, krisisnya di atas dan kita terkena imbasnya. 

Lalu, apa antisipasinya karena sekarang angka pengangguran di Kabupaten Bogor semakin banyak?

Ya, kita gunakan konsep empowering (pemberdayaan). Untuk Kabupaten Bogor, sebetulnya kita punya potensi memberdayakan masyarakat dengan konsep ekonomi tradisional. Materi itu barter, sebab suplai (pasokan) dan demand (permintaan) terkadang tidak berimbang.
 
Logikanya begini, di Bogor Barat banyak potensi pertanian. Tapi, kenapa produknya dijual ke Pasar TU (Pasar Induk Kemang, red). Kenapa harus begitu? Kenapa tidak dijual di wilayah Bogor Barat saja. Produknya berasal dari masyarakat dan hasilnya dinikmati juga oleh masyarakat setempat. Jadi, ekonomi konvensional juga akan kita gunakan untuk mengatasi krisis global.


Bagaimana mengelola dana APBD yang mencapai Rp1,9 triliun agar bisa optimal?

Kalau dilihat dari kacamata ekonomi, APBD itu kan adalah modal awal. Kalau kita menggunakan prinsip ekonomi, kita tidak perlu menggunakan modal awal itu, tapi bagaimana kita menggunakan magnet agar bisa menarik uang dari luar. 

Hanya saja kelemahannya, kita tidak pernah mengembangkan komoditi ekonomi untuk jadi nilai jual yang bagus dan menguntungkan. Makanya, kita akan mengembangkan ekonomi berbasis pasar. 

Gambarannya begini, kenapa setiap musim hujan Jakarta selalu banjir padahal kita yang hujan. Air mengalir ke Jakarta, tapi kita tidak pernah memikirkan tempat pembuangannya bagaimana. Kita ingin sharing bagaimana menangani itu.

Sebenarnya air yang menuju Jakarta mengalir melalui sembilan sungai. Nah, aliran sungai ini terhambat oleh sampah, aliran yang menyempit karena mal dan lain-lain. Sebenarnya ini bisa diatasi, bagaimana? Sumber sampah di Jakarta itu adalah Pasar Kramat Jati. 

Di tempat itu barang-barang dari berbagai daerah dikemas sebelum masuk ke Kota Jakarta. Sampahnya dibuang dan masuk tinggal dijual ke masyarakat. Aktivitas ini menjadi kegiatan rutin di sana, dan orang jadi bingung mau buang sampah ke mana? Nah kita bantu mengurangi sampah itu, tapi bagaimana caranya? Kita pindahkan Pasar Kramat Jati ke Bogor.
 
Semua produk yang datang dari Sukabumi, Cipanas dan lain-lain yang masuk ke Jakarta, sampahnya pasti dibuang ke Bogor. Jika begitu, kenapa produknya harus masuk ke Jakarta dulu jika sampahnya harus dibuang ke Bogor, kenapa tidak di Bogor saja dikemasnya, dan sampahnya tinggal dibuang di tempat yang sama. Kan kita punya punya TPST Bojong. 

Ini posisi tawar kita. Biar Jakarta yang memasarkan, tapi kita yang memprosesnya. Kita sudah memikirkan efek dominonya. Jika Pasar Kramat Jati dipindahkan ke Bogor makan akan menyerap tenaga kerja, kemudian kita bisa memberdayakan potensi pertanian.
(http://www.radar-bogor.co.id/index.php?ar_id=MjI3MTc=&click=MTAx)