Rabu, Desember 10, 2008

RAPAT PLENO REKAPITULASI PENGHITUNGAN SUARA PILBUP BOGOR PUTARAN 2

RAPAT PLENO REKAPITULASI PENGHITUNGAN SUARA PEMILU BUPATI & WAKIL BUPATI BOGOR PUTARAN 2

Rapat Pleno Terbuka Rekapitulasi Penghitungan Suara Pemilu Bupati dan Wakil Bupati Bogor Tahun 2008 Putaran Kedua digelar hari Sabtu, 6 Desember 2008 di Gedung Tegar Beriman Pemkab Bogor dengan lancar dan tertib. Rapat dihadiri oleh PPK, para saksi pasangan calon, Panwaslu, muspida serta undangan lainnya berlangsung mulai Pukul 10.00 WIB.

Acara dimulai dengan pembacaan tata tertib Rapat serta surat mandat saksi. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan hasil rekapitulasi penghitungan suara di masing-masing kecamatan yang dilakukan oleh perwakilan anggota PPK masing-masing kecamatan dimulai dari kecamatan Cibinong. Dari 2.810.462 pemilih yang terdaftar terdapat 1.634.647 pemilih yang menggunakan hak pilihnya dengan jumlah suara sah sebanyak 1.560.069 dan suara tidak sah sejumlah 74.578. Adapun rincian perolehan suara adalah sebagai berikut:

JUMLAH SUARA

JUMLAH SUARA SAH

JUMLAH SUARA TIDAK SAH

TOTAL SUARA

NOMOR URUT 4

NOMOR URUT 5

569.718

990.351

1.560.069

74.578

1.634.647


(http://www.kpud-bogorkab.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=83&Itemid=1)

RY Rancang Kabinet Profesional

RY Rancang Kabinet Profesional

Cibinong - Pasangan Bupati-Wakil Bupati Bogor Rachmat Yasin-Karyawan Faturachman (Rahman) dipastikan dilantik akhir bulan ini. Dengan demikian, Januari 2009, pasangan Rahman sudah memimpin Kabupaten Bogor dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) baru yang sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 tentang struktur OPD baru.

Untuk menyiapkan Kabinet Rahman, Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan (Baperjakat) Kabupaten Bogor diminta konsolidasi dengan pasangan Rahman dalam penempatan orang-orang di posisi kepala dinas maupun kepala badan. Konsolidasi ini sangat perlu, karena pasangan Rahman harus bekerjasama dengan para kepala OPD baru.

“Kita meminta kepada Baperjakat agar dalam penunjukan orang-orang yang akan memimpin dinas, berkonsolidasi dengan pasangan Rahman. Pasalnya, Rahmanlah yang akan bekerjasama dengan para kepala dinas tersebut. Jika nanti tidak dilibatkan lalu ada ketidakcocokan, maka roda pemerintahan pun akan terganggu,” kata Anggota Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kabupaten Bogor Suprijanto, kemarin.

Menurut Suprijanto, pihaknya meminta Baperjakat agar menempatkan orang-orang profesional di Kabinet Rahman, yakni mereka yang menempati dinas tertentu, memang memiliki landasan pendidikan dan kemampuan di bidang tersebut. Jika hal ini dilakukan, maka proses pembangunan di Kabupaten Bogor akan berjalan secara maksimal.

“Baperjakat juga diminta profesional dalam penempatan orang-orang pada masing-masing dinas, memperhatikan kualitas dan kompetensi orang tersebut. Jangan sampai orang ekonomi dijadikan kepala Dinas Pendidikan. Akan lebih tepat jika orang pendidikan yang memimpin lembaga pendidikan,” kata Suprijanto.

Sementara itu, Bupati Bogor terpilih Rachmat Yasin (RY) yang ditemui Jurnal Bogor di kantor DPRD Kabupaten Bogor mengatakan, pihaknya akan proporsional dalam menempatkan para kepala dinas sesuai dengan bidang pendidikan dan kemampuannya. Dengan penempatan orang-orang yang sesuai bidang pendidikan dan kemampuannya, maka profesionalisme orang-orang yang memimpin dinas tersebut akan terlihat. “Kalau menempatkan seseorang secara tidak proporsional, maka orang tersebut tidak akan profesional.

Karena itulah, Rahman akan menempatkan orang-orang secara proporsional agar mereka bekerja profesional untuk melayani masyarakat Kabupaten Bogor,” kata RY.

Lebih lanjut RY mengatakan, dalam mengeluarkan kebijakan, pihaknya juga akan menjauhi hal-hal yang bersifat personal atau kedekatan pribadi. Semua yang bekerja dalam Kabinet Rahman adalah orang-orang profesional untuk membangun Kabupaten Bogor.

“Untuk itulah, Rahman membutuhkan sekda dan asisten yang tangguh dalam menghadapi berbagai permasalahan yang ada di Kabupaten Bogor. Demikian pula untuk para kepala dinas, mereka tidak boleh langsung melapor pada saya, namun pada sekda terlebih dahulu. Kalau mereka melapor pada saya, tidak akan saya tanggapi. Ini karena saya menghargai sekda yang memiliki peran sebagai perdana menteri,” kata RY.

(www.jurnalbogor.com)

Minggu, Desember 07, 2008

RY Siap Babat Pejabat Nakal

Terutama yang Berpihak saat Pilbup
RY Siap Babat Pejabat Nakal


CIBINONG - Pleno KPU hasil Pilbup Bogor putaran kedua resmi digelar kemarin. Pemenangnya? Tentu sudah bisa ditebak, yakni pasangan Rachmat Yasin-Karyawan Faturachman (Rahman). Pasangan itu unggul mutlak atas Nungki sareng Endang (Nu Sae) di 40 kecamatan Kabupaten Bogor.

Berdasarkan rekapitulasi akhir KPU Kabupaten Bogor, Rahman meraih suara 990.351 (63.48 persen). Sedangkan Nu Sae hanya memperoleh 569.718 suara (36,52 persen). Hasil pleno KPU tak jauh berbeda dengan hasil quick count Lingkar Survey Indonesia (LSI) pada 30 November atau tiga jam setelah pencoblosan yang menempatkan Rahman menang dengan 63,55 dan Nu Sae 36,45%. Pun demikian dengan real count Radar Bogor yang diumumkan per 1 Desember yang menempatkan Rahman memperoleh 64,24% dan Nu Sae 63,24 persen.

Rapat pleno dilaksanakan dalam penjagaan ketat pihak kepolisian. Ratusan personel polisi menjaga gedung Tegar Beriman mulai dari radius seratus meter. Pendukung Rahman terlihat memadati sebagian besar bangku yang disediakan untuk tamu. Di deretan bangku tamu tak satupun pendukung Nu Sae yang tampak. Nu Sae hanya diwakili dua saksi penghitungan suara.

Pelaksanaan penghitungan suara berjalan lancar. Setelah KPU Kabupaten Bogor membuka rapat, setiap ketua PPK membacakan hasil akhir suara di masing-masing kecamatan. Dari 40 kecamatan, suara pasangan Rahman selalu unggul. Bahkan keunggulannya rata-rata di atas 60 persen. Di beberapa kecamatan seperti Dramaga, suara Rahman unggul telak.

Setiap kali PPK menyebutkan angka perolehan suara, para pendukung Rahman langsung bersorak dan tepuk tangan. Suasana pembacaan hasil suara pun berlangsung lancar tanpa interupsi. Di semua kecamatan tidak ada satupun berkas keberatan dari masing-masing pasangan. Dan suara pasangan Rahman tidak pernah lebih kecil dari suara Nu Sae.

Setelah pembacaan setiap kecamatan selesai dan KPU Kabupaten Bogor merekapitulasi perolehan suara, saksi dari dua pasangan langsung diberikan waktu sanggah. Saksi dari Rahman menerima hasil rekapitulasi suara, sedangkan saksi pasangan Nu Sae meminta agar KPU Kabupaten Bogor membacakan ulang daftar berita acara bernomor 39 tentang Daftar Pemilih Tetap (DPT).

KPU Kabupaten Bogor kemudian membacakan apa yang diinginkan saksi Nu Sae. KPU Kabupaten Bogor membacakan kembali jumlah total DPT di Kabupaten Bogor, yakni 2.810.462 pemilih.

Namun kemudian, saksi Nu Sae langsung membuka permasalahan yang mereka temukan. “Kami menemukan di sebagian besar kecamatan ada perbedaan jumlah DPT dengan jumlah DPT yang dikeluarkan KPU Kabupaten Bogor,” kata salah satu saksi Nu Sae, Ariepudin. Dia mencontohkan jumlah DPT di Kecamatan Nanggung lebih besar dibandingkan DPT yang dikeluarkan KPU Kabupaten Bogor. Atas hal ini, saksi Nu Sae berkeberatan dengan hasil rekapitulasi suara.

Mendengar sanggahan ini, peserta rapat yang notabene adalah pendukung pasangan Rahman langsung bersorak. Mereka menganggap penjelasan Ariepudin tidak masuk akal.

KPU Kabupaten Bogor mengakui pada awalnya memang ada perbedaan jumlah DPT karena ada perbedaan teknis penghitungan. “Namun sudah bisa dikoreksi,” ujar anggota KPU Kabupaten Bogor Achmad Fauzi. Tapi tetap saja Ariepudin dan saksi Nu Sae lainnya Heri merasa keberatan dengan hasil suara yang telah direkapitulasi. Akhirnya, mereka melakukan walk out dan tidak menandatangani berita acara rekapitulasi dan juga tidak mau mengisi lembar keberatan.

“Jika tidak ada saksi yang mengisi form keberatan, berarti dianggap tidak ada keberatan. Dan kami tetap akan menetapkan pasangan Rahman sebagai pemenang,” kata anggota KPU Kabupaten Bogor Romli Eko Wahyudi.

Bagaimana jika pasangan Nu Sae mengajukan keberatan melalui jalur hukum? Eko menganggap hal itu biasa. “Silakan saja jika mereka mau mengupayakan secara hukum. Kami sudah melakukan rapat rekapitulasi sesuai dengan ketentuan Undang-undang,” kata Eko.

Selasa ini, KPU Kabupaten Bogor berencana memberikan hasil penghitungan suara akhir ke ketua DPRD Kabupaten Bogor. Selanjutnya, DPRD Kabupaten Bogor-lah yang berwenang menetapkan siapa pemenang dan yang berhak memimpin Kabupaten Bogor lima tahun ke depan. Jika tidak ada aral-merintang, pasangan Rahman dipastikan bisa memimpin Kabupaten Bogor di awal 2009.

Usai pleno KPU, bupati Bogor terpilih Rachmat Yasin (RY) bersama tim suksesnya langsung menggelar konfensi pers di DPC Partai Persatuan Pembangunan (PPP), kemarin. RY yang didampingi beberapa anggota DPRD Kabupaten Bogor bersama jajaran tim suksesnya menegaskan, setelah kemenangan resmi diumumkan, dia bertekad mewujudkan Kabupaten Bogor yang lebih baik.

“Bila tak ada dukungan dari stekholder dan masyarakat, kemenangan Rahman tak akan ada artinya. Saya mohon dukungan masyarakat agar lima tahun ke depan bisa memberi arti yang baik untuk Kabupaten Bogor,” kata RY.

Makanya, dia meminta media massa agar memberikan saran dan kritiknya kepada pemerintahannya ke depan. Karenanya, kehadiran media sangat diperlukan untuk transformasi informasi kepada masyarakat.

Dalam memimpin roda pemerintahan ke depan, RY berjanji akan melakukan reformasi birokrasi yang berorientasi kualitas. Yakni, melakukan rekonsiliasi dengan masyarakat, mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) dan mempertajam kepekaan terhadap Kabupaten Bogor, terutama pada situasi yang cukup sulit dalam krisis keuangan global sekarang.

“Rekonsiliasi sangat jelas, misalnya konsolidasi, sharing dengan mereka dengan eks lima pasangan bupati. Kita tak akan maju bila tak bersatu. Makanya, slogan kita Bersatu Kita Maju,” jelasnya.

Ketika ditanya mengenai adanya beberapa pejabat Pemkab Bogor yang ketar-ketir karena bakal adanya mutasi besar-besaran, RY kembali mengingatkan reformasi birokrasinya akan berorientasi pada profesioalisme. “Saya bukan orang pedendam. Selama pejabat bersangkutan berkualitas, kenapa harus takut. Yang saya babat adalah pejabat-pejabat yang melakukan pelanggaran dalam Pilbup,” terangnya. Karenanya, RY meminta seluruh birokrat dan aparat pemerintah Kabupaten Bogor jangan pernah merasa takut bila mereka tak melakukan pelanggaran saat Pilbup.

Selanjutnya, ia berpesan kepada masyarakat agar mensyukuri apa yang telah diberikan Allah atas kemenangan yang diraih Rahman. “Boleh bersyukur tapi tak boleh berpesta. Kita menang tanpa mengalahkan orang lain, karena mereka adalah keluarga kita untuk melangkah bersama ke depan,” ujarnya.

Sedangkan juru bicara Rahman David Rizard Nugroho menegaskan, Rahman mempersembahkan kemenangan tersebut kepada masyarakat Kabupaten Bogor. Makanya tak perlu ada eoforia dan pesta kemenangan karena pekerjaan rumah (PR) Rahman sudah di depan mata. “Mari kita kawal dan wujudkan perubahan menuju masyarakat Bogor yang bertakwa dan berdaya menuju sejahtera,” tegasnya. 
(http://www.radar-bogor.co.id/?ar_id=MjMwMzg=&click=MjM2)

Sabtu, Desember 06, 2008

Rahman Kembali Menang Telak

Rahman Kembali Menang Telak

Cibinong Pasangan calon bupati Bogor yang diusung Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kabupaten Bogor Rachmat Yasin-Karyawan Faturachman (Rahman) menang telak atas pasangan Nungki sareng Endang Kosasih (Nusae) pada pencoblosan ulang di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 12 Kelurahan Sukahati, kemarin.

Pasangan Rahman berhasil meraih 218 suara sedangkan pasangan Nusae hanya meraih 20 suara, dan suara rusak alias blanko sebanyak 5 suara. Untuk hak pilihnya sendiri sebanyak 526, sehingga warga RT 03/07 Pajelaran Gunung Kelurahan Sukahati yang memilih golput sebanyak 283 orang.

Pencoblosan ulang di TPS 12 ini sendiri sebenarnya tidak merubah perolehan suara masing-masing pasangan calon bupati secara siginifikan. Pasangan Rahman yang diklaim oleh LSI meraih perolehan sekitar 63,55 persen suara, tetap unggul atas pasangan Nusae yang hanya mendapatkan 36,45 persen suara.

Meski tidak merubah hasil akhir pemenang putaran kedua pemilihan kepala daerah (pilkada) Kabupaten Bogor, namun pencoblosan ulang ini mendapat perhatian yang sangat tinggi aparat pemerintah Kabupaten Bogor. Tidak hanya anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Kabupaten Bogor yang ikut memantau proses pencoblosan ulang tersebut, sejumlah masyarakat juga ikut menyaksikan pencoblosan ulang ini. Masyarakat yang awam terhadap aturan ini, merasa heran dengan dilakukannya pencoblosan ulang yang hanya dilakukan pada satu TPS saja.

Untuk menjaga keamanan selama proses pencoblosan ulang di TPS 12 RT 03/07 Pajeleran Gunung Kelurahan Sukahati ini, petugas dari Polsek Cibinong dan Polres Bogor mengawalnya secara ketat. Di sejumlah titik pertigaan kampung, sejumlah polisi terlihat berjaga-jaga. Bahkan, Kapolsek Cibinong AKP Ramses Sianipar juga ikut memantau secara langsung proses pencoblosan ulang ini.

Sementara itu, proses pencoblosan ulang ini dimulai sekitar pukul 07:00 wib, sama seperti yang dilakukan pada putaran pertama dan kedua pilkada Kabupaten Bogor. Agar masyarakat bisa mendatangi TPS untuk menyalurkan hak pilihnya, panitia melalui pengeras suara meminta kepada masyarakat yang memiliki hak pilih untuk menyalurkan suaranya. Hasilnya, dari 526 hak pilih, sekitar 243 warga RT 03/7 Kelurahan Sukahati ini menyalurkan hak pilihnya.

“Pencoblosan ulang ini sengaja kita lakukan hanya di TPS 12. Kita memutuskan, bahwa di TPS 09 tidak perlu dilakukan pencoblosan ulang. Kita tidak mau menghilangkan hak demokrasi warga yang telah mencoblos di TPS 09,” kata Ketua Divisi Teknis KPU Kabupaten Bogor Eko Romli.

(www.jurnalbogor.com)

Terima Kasih kepada seluruh warga Bogor, Semoga kami dapat mengemban amanah Rakyat

Terima Kasih kepada seluruh warga Bogor, Semoga kami (Rahmat Yasin dan Karyawan Fathurachman) dapat mengemban amanah Rakyat


Kehidupan dapat kita ibaratkan ibarat roda yang menggelinding dan akan terus berputar sampai akhir hayat. Demikian pula halnya dengan pemerintahan, Sang arsitek Maha Agung telah mengatur melalui siklus supra dan supernatural dimana tidak ada kekuatan lain yang mampu mencegah atau menghambatnya, yang dalam keseharian fenomena ini kita sebut sebagai rotasi, perubahan, pergantian, atau penggiliran.

Kemenangan RAHMAN dalam pilkada Kabupaten Bogor bukanlah karena kehebatan Rahmat Yasin dan Karyawan Fathurachman melainkan telah digariskan dalam takdir Ilahi, dimana kita semua baik yang dipilih maupun yang memilih hanya bersyariat untuk berada dalam sistem tersebut dengan membaca dan mengenali serta menterjemahkan gejala perubahan dimaksud.

Kami hanya dapat menghaturkan terima kasih kepada seluruh warga bogor, semoga kami (Rahmat Yasin dan Karyawan Fathurachman) dapat mengemban amanah untuk menjalani babak baru ini dalam ridhoNya dalam mewujudkan semua harapan dan keinginan kita bersama memakmurkan warga bogor. Amin.

MERDEKA!!!

Catatan Harian
www.wawankusnun.blogspot.com
http://profiles.friendster.com/wawankusnun

Jumat, Desember 05, 2008

PPP-PDIP Bidik Lumbung Golkar

PPP-PDIP Bidik Lumbung Golkar

Bogor-Pertempuran di ajang Pilbup Bogor baru saja usai. Namun, pertempuran babak baru segera dimulai jelang Pemilihan Legislatif. Caleg-caleg andalan dari parpol besar kembali berjibaku memperebutkan suara terbanyak untuk menjadi wakil rakyat.

Hal ini juga berlaku di Daerah Pemilihan (Dapil) VI yang selama ini dikenal sebagai lumbung suara Partai Golkar. Mengacu pada hasil Pileg 2004, mayoritas kecamatan yang masuk di dapil ini dikuasai mutlak oleh Golkar. Namun, itu cerita empat tahun yang lalu. Tahun depan ceritanya bisa lain jika partai berlambang pohon beringin ini tidak segera merapatkan barisan dan menyelesaikan masalah internal partai.

Seperti diberitakan Jurnal Bogor, kemarin, sejumlah pengurus kecamatan (PK) Golkar melontarkan mosi tidak percaya pada Ketua DPD Partai Golkar, H. Fitri Putra Nugraha alias Nungki. Salah satu penyebabnya, karena secara mendadak –tiga hari jelang pencoblosan—semua saksi di 7.019 TPS yang semula kader golkar, semuanya diganti oleh saksi dari PKS. Inilah yang ditengarai membuat kader militan Golkar sakit hati.

Jika tidak segera dibenahi, Dapil VI akan menjadi makanan empuk bagi politisi dari PPP dan PDIP yang baru saja sukses mengantarkan jago mereka, pasangan Rachmat Yasin-karyawan Fathurachman (Rahman) memenangkan Pilbup Bogor. Sebab, tidak menutup kemungkinan suara kader dan simpatisan Golkar akan dialihkan ke parpol lain, termasuk parpol-parpol baru yang dibidani oleh mantan tokoh Golkar, sebut saja Hanura dan Gerindra yang makin gencar melakukan konsolidasi di Bogor.

Lantas, siapa jago PPP dan PDIP di Dapil VI? PPP menempatkan new comer Rifdian Suryadharma di nomor urut satu. Meski pendatang baru, karakter mantan aktivis buruh ini dianggap cocok untuk meladeni ketangguhan dan nama besar caleg-caleg muka lama sarat pengalaman dari parpol lainnnya di dapil ini, sebut saja Hj Ratu Nailamuna, nomor urut dua dari Golkar, dan Wawan Risdiawan caleg nomor urut satu PDIP untuk Dapil VI.

”Saya diperintahkan Ketua DPC PPP untuk berjuang di Dapil VI. Tidak mudah memang, karena banyak banyak caleg berpengalaman. Namun, saya tidak surut untuk melangkah. Pendekatan langsung ke masyarakat membuat saya optimis meraih hasil maksimal,” ujarnya kepada Jurnal Bogor di Cibinong, kemarin.

Di dapil yang menyediakan 8 kursi ini, rivalitas caleg antar-parpol bakal sengit. Rifdian sendiri memprediksi harus bekerja keras dan memanaskan mesin partai sejak dini untuk bisa berjaya di dapil ini. Tanpa bermaksud meremehkan caleg lain, secara khusus, Rifdian menyebut nama Wanli sapaan akrab Wawan Risdiawan dan Hj Ratu Nailamuna alias Teh Tatu sebagai pesaing serius. “Jam terbang tinggi, dan sudah dikenal. Punya massa pemilih tradisional yang cukup banyak. Tapi, sekali lagi. Saya tidak gentar. Pengalaman menggalang jaringan semasa Pilbup jadi modal berharga bagi saya,” ujarnya.

Untungnya, lanjutnya Rifdian, Tatu ada di nomor urut dua. Sedangkan caleg nomor satu Golkar di dapil ini, yaitu Hidayat Royani, menurut Rifdian belum lah memiliki massa sebanyak Tatu dan Wanli.

Karena itu, di dapil yang meliputi kecamatan Gunungsindur, Ciseeng, Parungpanjang, Bojonggede, Kemang, Rancabungur, dan Tajurhalang, Rifdian bakal rajin menyambangi masyarakat. ”Momentum kemenangan Rahman tidak boleh lewat. Tidak ada waktu untuk berleha-leha. Saya harus segera membangun jaringan akar rumput yang solid, dan untuk itu saya harus datang ke semua wilayah,” jelasnya.
(www.jurnalbogor.com)

Selasa, Desember 02, 2008

Kenapa Rachmat Yasin Bisa Menang?

Kenapa Rachmat Yasin Bisa Menang? 
Pagi di Jonggol, Sore Sudah di Nanggung 


KONSISTEN bersikap dan fokus pada hasil menjadi kunci utama kesuksesan Rachmat Yasin (RY) merebut suara tertinggi dalam pemilihan bupati (Pilbup). Selama tiga tahun RY menyiapkan diri untuk berlaga dalam Pilbup. Selama itu pula dia fokus menjaga emosi, strategi politik adiluhung dan tanpa lelah berkeliling Kabupaten Bogor. 

Hasrat politik RY sudah muncul selepas lulus SMAN 1 Kota Bogor. Karena itu, dia memilih kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Universitas Nasional Jakarta. Di kampus itu, RY mengenal dunia politik dan organisasi dengan menjadi anggota Badan Perwakilan Mahasiswa Fisip.

Saat remaja, RY yang tumbuh dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU) terpilih sebagai ketua Gerakan Pemuda (GP) Anshor Kabupaten Bogor. Kiprahnya di dunia organisasi kepemudaan makin lempang saat beliau dipercaya sebagai pengurus DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Bogor pada 1982-1991.

RY lantas masuk Gedung DPRD sebagai anggota dewan pada 1997-1999. Periode berikutnya (1999-2004) RY terpilih lagi. Pada periode tersebut insting politik kader PPP itu mulai tajam, sehingga terpilih menjadi ketua Komisi C dan ketua panitia anggaran. Langkahnya di gedung dewan semakin mantap. Terbukti periode selanjutnya dia terpilih sebagai ketua DPRD Kabupaten Bogor.

Setelah dua tahun duduk di puncak politik legislatif, munculah niat untuk duduk kursi kekuasaan. Secara perlahan, putra kedua dari sembilan bersaudara pasangan (alm) HM Yasin–Hj Nuryati itu terus memoles langkah politiknya menuju kursi bupati. Dia berkeliling dari satu kecamatan ke kecamatan lain di Kabupaten Bogor untuk membangun citra.

Suami Hj Eli Halimah itu terus membangun karakter dengan menyentuh semua lapisan masyarakat. Dia bersilaturahmi dengan siapa saja dan mau merangkul orang tanpa pandang umur. "Setiap kali saya kampanye, anak kecil saja berlari sambil menyebut nama saya. Kalau anak kecil saja sudah tahu, orangtuanya pasti mengetahui saya," cerita Rachmat saat berkunjung ke Radar Bogor dini hari kemarin.

Di ‘rumah politiknya’ PPP, dia juga mengatur langkah. Setelah menjabat sebagai sekretaris DPC Kabupaten Bogor dua periode, RY melenggang menjadi ketua DPC PPP Kabupaten Bogor pada Muscab ke-IV di Dramaga Kabupaten Bogor pada 2003. Kali kedua di Musyawarah Cabang (Muscab) ke-V di Cipayung Puncak, dia juga terpilih secara aklamasi sebagai ketua DPC PPP Kabupaten Bogor periode 2006-2011. Dalam Muscab tersebut, lahirlah salah satu rekomendasi Muscab agar DPC PPP Kabupaten Bogor mengusung RY sebagai calon bupati Bogor periode 2008-2013.

Sejak itulah, RY mulai menciptakan peta politik Pilbup Bogor. Menuju puncak kekuasaan itu, dia selalu berpikir keras dan cerdas untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan masyarakat Kabupaten Bogor. Termasuk mengelola perilaku konstituen dan perilaku politik Kabupaten Bogor. Dia juga mengoptimalkan proses kampanye, segmentasi, targeting dan positioning. Dia tak tanggung-tanggung dalam membangun citra, sehingga meladeni semua bentuk promosi, termasuk yang konvensional. Tentu saja dia juga terus konsisten mencitrakan dirinya sebagai 'orang paling bersahabat' di Kabupaten Bogor hingga putaran kedua Pilbup.

Di kalangan tim suksesnya, RY yang bersanding dengan Karyawan Faturachman tak pernah lelah menelusuri setiap jengkal tanah Kabupaten Bogor. Pagi masih di Kecamatan Jonggol, sorenya sudah di Nanggung. Lantas besoknya ada di Rumpin, lima jam kemudian nongkrong di kawasan Puncak. Itu terus-menerus dilakukannya, sehingga 400 desa/kelurahan di Kabupaten Bogor sudah disinggahinya.

"Wih... Luar biasa mengikuti RY. Energinya harus kuat kalau mau mengikuti langkah dia," kata David Rizar Nugroho yang menjadi juru bicara pasangan Rahman selama kampanye.

RY sendiri mengakui hari-harinya selalu penuh dengan silaturahmi. Jalan becek, tanah licin hingga lumpur sawah dijejakinya. Dia mengaku selalu membuka rumahnya di Jalan Dramaga Tanjakan 24 jam untuk siapa saja tanpa kontrol ketat. Istrinya pun tak pernah risih dengan hilir-mudik oranglain di rumahnya.

Dia juga tak memberi sekat khusus dengan pencari berita. Setiap pertanyaan wartawan, dijawabnya secara diplomatis. Setiap permintaan wawancara selalu disanggupinya, meskipun tengah malam.

Berapa uang yang dihabiskan untuk kampanye Rachmat? Banyak yang memperkirakan, langkah RY menuju kursi bupati telah menghabiskan Rp30 miliar. Ke mana saja dana itu dihabiskan? Untuk apa saja?

Pengamatan di lapangan, Rachmat paling banyak menebar suvenir dan reklame. Dia mencetak suvenir dengan wajahnya di gelas, pin, kalender hingga kerudung. Di hampir tempat strategis di setiap kecamatan, fotonya juga banyak terpasang dalam reklame kecil hingga raksasa.

Rahman juga diperkirakan paling banyak membelanjakan anggaran untuk iklan di media cetak serta elektronik ketimbang pasangan lainnya. Rahman setidaknya membayar minimal Rp250 juta untuk iklan di tiga media lokal, satu televisi lokal, satu televisi nasional, termasuk radio di Bogor. Itu belum termasuk belanja politik, ongkos lobi, transportasi kader dan logistik lainnya.

Namun, David sebagai juru bicara buru-buru membantahnya bahwa Rahman telah mengeluarkan uang sebesar itu. Menurut dia, pada putaran pertama pasangan Rahman hanya menghabiskan Rp1 miliar lebih. Sedangkan putaran kedua menghabiskan Rp360 juta. "Suvenir itu berasal dari sumbangan banyak orang. Reklame juga begitu," kata David.

Khusus putaran dua, uang sebesar itu dikeluarkan untuk ongkos saksi pada hari H pencoblosan 30 November lalu. "Sebenarnya saksi itu tidak dibayar. Tapi, kami harus memperhatikan itu untuk sekadar uang bensin," terang David.

Selain kuatnya karakter dan konsistennya sikap RY menuju kursi bupati, banyak tokoh penting yang berperan besar di baliknya. Selain dukungan moril kuat sebagian pejabat dan kepala desa Kabupaten Bogor, setidaknya ada tujuh nama di belakang layar pasangan Rahman, diluar solidnya PDI Perjuangan Kabupaten Bogor.

Mereka adalah Teuku Hanibal, ketua Fraksi PPP DPRD Kabupaten Bogor. Dia juga sebagai ketua tim sukses. Kemudian Wawan Risdiawan sebagai sekretaris tim sukses yang juga ketua Komisi C DPRD Kabupaten Bogor dari PDI Perjuangan Kabupaten Bogor.

H Rudi Ferdinand juga disebut-sebut sebagai tokoh kunci dalam mendorong kendaraan politik Rachmat Yasin. Dia disebut-sebut sebagai penyokong dana utama untuk bensin kampanye Rachmat. Pria yang kerap disapa Rudi Bule itu adalah seorang pengusaha, sedangkan di organisasi tim sukses duduk sebagai bendahara.

Nama lainnya adalah Rifdian Suryadarma. Dia merupakan ketua Koalisi Buruh Bogor yang juga duduk sebagai direktur Kampanye Pasangan Rahman. Tokoh lainnya adalah Zaenul Mutaqien yang juga seorang profesionl muda merangkap sebagai direktur logistik.

Kemudian KH Nu’man Istikhori sebagai guru spiritual RY. Tokoh ulama ini banyak berperan memberikan pendidikan emosi selama berkampanye. Setelah itu ada Abidin Said. Tokoh Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Bogor itu adalah direktur RY Center yang turut mencitrakan Rachmat pada 1 Juni 2007.

RY Center merupakan kumpulan relawan-relawan yang membantu pencitraan Rahmat Yasin. RY Center juga merupakan pusat pertemuan Rahmat Yasin dengan publik, akademisi, pengamat, tokoh masyarakat, media serta pimpinan orpol dan ormas.

Di kalangan profesi wartawan, nama David Rizar Nugroho juga dianggap sebagai sosok kuat yang bisa mengkomunikasikan keinginan media massa terhadap RY. Selama putaran pertama, dosen Unpak dan IPB itu mampu menjembatani model kerja wartawan sehingga mampu mendapatkan informasi aktual dari segala aktivitas Rachmat. 
(http://www.radar-bogor.co.id/index.php?ar_id=MjI3OTI=&click=MTcw)